Minggu, 29 November 2009

Pengaruh Ilmu Psikologi dan Teknologi Dalam Perkembangan arsitektur

Pengaruh Ilmu Psikologi Dalam Perkembangan arsitektur

Adanya pengaruh psikologi dalam arsitektur tentulah sebagai sebuah parameter dalam perencanaan, sehingga dapat menciptakan bangunan yang tak meninggalkan fungsi-fungsi dan efienitas. Pada akhirnya konsep-konsep akan ‘privacy’, ‘teritori’, ‘konsep’ jelas dibutuhkan kerjasama dan kepaduan kesemuanya. Psikologi manusia-arsitektural nyata halnya, terjadi nya suatu proses dengan variasi-varias, ‘batasan-batasan’ tersebut menjadikan proses psiko-arsitektural tidak dapat pernah dapat dihentikan dan terhentikan. Aspek psikologi yang kerap kali masuk kedalam perancangan arsitektur justru menghadirkan pembaharuan pada setiap ‘kertas kerja’nya,
Psikologi sebagai sebuah disiplin ilmupengetahuan yang mandiri, telah berkembang pula.Begitu halnya psikologi arsitektur yang mengemukakan antara lingkungan fisik, khususnya yang berkaitan dengan penurunan kualitas fisik serta timbulnya gangguan terhadap perilaku dan gangguan terhdap keseimbangan alamiah akibat intervensi manusia melalui pembangunan fisik.
Kenapa bisa terjadi unsur psikologis dan komersil selalu dimasukkan dalam perancangan karya-karya arsitektur ? Indikasi adanya keterkaitan antara psikologis-komersil dalam perancangan arsitektur adalah munculnya pemikiran tentang ide fungsionalisme yang lahir dan berkembang. Psikologi mempengaruhi dan mengkaitkan tipical ruangan atau rancangan menjadi suatu patokan dan batasan desain yang ‘wajib’. Seolah menjadi batasan yang tidak boleh dilanggar. Tak hanya psikologi manusia yang menjadi standarisasi dalam perancangan arsitektural namun juga komersil arsitektur. Nilai-nilai komersil mengatur dan merealisasikan keinginan psikologi manusia dalam perancangan arsitektur. Tak ada Komersil maka psikologi dalam karya arsitektur tak akan terealiasasi begitu halnya sebaliknya. Tak ada ‘standarisasi’ psikologi manusia dalam rancangan arsitektur maka tak lagi ada bangunan yang cukup untu k dinilai secara nominal, karena keinginan dan ‘standarisasi’ manusia yang berubah., Fungsionalis mengindahkan aspek psikologi dan sebaliknya. Pada akhirnya keduanya diungkapan dengan adanya ‘konsep bentuk’ dan ‘konsep ruang’, selalu saja ada konsep. Begitulah konsep, sifatnya mengatur, seolah mengikat, ‘mewajibkan’ dan mencampuri. Semua tampak kompleks, bentuk bisa jadi merupakan hal yang pasti dan tetap, walaupun pada kesan yang dtinggalkannya dalam alam pikiran manusia selalu bisa berubah dan berkembang. Dalam sisi psikologis ‘konsep’ dapat saya artikan sebagai sebuah ‘privacy’, yang dianggap mendasari. ‘Privacy’ dalam arsitektural mungkin dapat saya analogkan dengan ‘Teritori’ sebagai batas wilayah fisik ataupun abstrak. Dalam psikologi ‘privacy’ yang dimaksudkan adalah sebagai pengontrol perilaku dalam ruangan terhadap subjek lain, orang ataupun hal lain. Konsep ‘privacy’ ataupun ‘teritori’ dalam arsitektur bisa diartikan sebagai kebutuhan manusia untuk menikmati sebagian kehidupan sehari-harinya tanpa ada gangguan langsung ataupun tidak dari hal lain dan psikologi manusia menjelaskan bahwa psikologi ‘privacy’ sebagai kebebasan pribadi untuk memilih apa yang akan disampaikan kepada siapa dan tentang apa.

Pengaruh Teknologi Dalam Perkembangan arsitektur

Pada jaman sekarang ini, tenologi sangat berkembang pesat dan mempengaruhi segala aspek kehidupan, tidak terkecuali dunia arsitektur. Teknologi mulai mempengaruhi dunia arsitektur yaitu pada awal tahun 1970. Hal terebut dapat terlihat pada karya Renzo Piano yaitu Pusat Georges Pompidou di paris yang menggunakan material-material kaca dan logamdengan mengekspose secara transparan bentuk-bentuk jaringan dalam bangunan serta udah mulainya penggunaan escaator, wallkways da ornamen-ornamen di luar gedung yang menggunakan pemanfaatan teknologi.
Pada masa masa revolusi industri teknologi sangat berkebang pesat. Ciri bangunan yang berkembang adalah ciri bangunan pabrik. Hal ini dilatar belakangi oleh perkembangan industri dan teknologi pada saat itu, bangunan-bangunan lebih mengutamakan efesiensinya, dimana grid-grid yang diambil biasanya teratur dan lurus,dan ornamen sangat jarang dipakai.
Teknologi pengambilan keputusan (decision support system) pada disain arsitektur sampai perencanaan kota sejak akhir 90-an juga telah banyak dibanjiri dengan teknologi komputer yang sangat interaktif.
Bagaimana sebuah bentuk bangunan terwujud adalah hasil dari evolusi teknologi terhadap material. Apabila kita mengambil sudut pandang arsitektur tradisional, arsitektur modern atau jenis sebutan arsitektur lainnya oleh manusia, suatu bangunan memiliki elemen pembentuk yang lebih kecil yaitu, material dan teknologi bangunan. Teknologi material memiliki hub timbal balik dengan teknologi struktur.
Dengan ditemukannya teknologi transportasi vertikal, teknologi penghawaan serta mesinmesin utilitas lainnya, memungkinkan diciptakannya karya-karya arsitektur yang kompleks maupun gedung-gedung pencakar langit. Dengan berkembangnya sistem rekayasa konstruksi, memungkinkan pembangunan pencakar langit secara cepat, pemanfaatan ruang-ruang bawah tanah secara efektif dan pemanfaatan teknologi lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar